Semalam ikutan acara Pecha Kucha vol.1 di Pasturo Cafe (errr. . . pasturo, bikin aku membayangkan seorang pastur :P ). Acara yang dimulai sejak ba'da Isya itu menyajikan presentasi orang2 yang meREALisasikan idenya. Atau yang mau presentasi tentang komunitasnya. Dari yang small sampai yang big! Aku pikir that's great! Awesome! Seru banged, sampai Pasturo Cafe gak muat. Aku tunggu pecha kucha berikutnya!
Setelah Pecha Kucha selesai, aku diajak Candra ke kiosnya. Aku awalnya gak tau kiosnya itu apa, di mana, dan tau2 aja Mas Danu udah bilang, "Ikutin aku aja." Sambil nyengir khas dengan pipi tebelnya. Akhirnya aku cuma ikut aja, setelah nganter Sendy ke XXI. Mbak Ratna dan temennya udah balik duluan ke kos waktu itu.
Singkat cerita, aku, Mas Danu, dan Candra sudah di Cafe Onthelista. Ternyata Candra buka cafe. Baru, dan sepertinya aku tertarik dengan konsep cafenya. "Coba ah aku marketingin," batinku.
Di sana ada klinik Onthel. Aku lupa nama Mas (Mas Wawan mungkin ya) yang dengan semangatnya menjelaskan berbagai macam tipe, jenis dan asal onthel. Betapa expert.nya beliau. Aku salut bahwa onthel sekarang bisa jadi barang yang di-investasikan. Tergantung seberapa jauh pemilik bisa merawat ke-original-annya.
Waktu semakin larut, karena acara Pecha Kucha sendiri selesai jam 21:34 dan kita baru sampai di Cafe Onthel jam 21: 56. Obrolan yang kita obrolin bebas. Walau sebenarnya ada obrolan penting yang mau mas Danu sampaikan ke Candra malam itu. Jadi ya otomatis aku cuma jadi pendengar setia. Nah, saat itulah tanganku gak pernah bisa diem. Kepala clingak clinguk kanan kiri. Badan ikutan mondar mandir ke sana sini. Walo mulut ngobrol ngalor ngidul, tanya ini tanya itu. Gak tau kenapa aku ngambil kawat bekas di pilar depan sebelah timur cafe. Langsung aja, Eureka! "Buat sesuatu ah," sambil nyengir kuda.
Yang aku buat adalah model sepeda onthel dari kawat bekas. Kawat yang abis dipotong2 itu tak buat dengan melihat salah satu koleksi Mas Onthel (tak kasih nama mas Onthel karena aku lupa namanya). Sambil dengerin obrolan mereka tanganku masih saja gak bisa diem. Dan sesekali nyeruput kopi luwak yang harganya cuma Rp 10.000,-. Sadar apa endak, ini kopi luwak termurah yang pernah aku minum. Enak. Mataku baru terpejam pagi tadi.
Singkat cerita, model sepeda onthel tadi adalah karya kesekianku (kenapa gak tak ambil gambarnya). Padahal No Pic bisa jadi Hoax. Haha whateverlah . . .
November 26, 2011
October 08, 2011
March 21, 2011
Gunawan , Sang Penangkap Moment dari Padang

Yogyakarta – Sosok pemuda ini penuh canda, murah senyum dan sederhana. Pribadi supel dan pandai bergaul membuatnya banyak disukai teman – temannya.
Adalah Gunawan Eko Prastio, di usianya yang masih 26 tahun, dia sudah menggantungkan hidupnya pada kamera Nikon D70. Di bawah perusahaan kecil bernama Inspiro, Gunawan membangun bisnis fotografi dengan teman - temannya.
Namun kesuksesan yang diraihnya tidaklah semudah membalik telapak tangan. Jiwa wirausahanya sudah dipupuk sejak dia mulai mencari penghasilan sendiri di kota Yogyakarta tahun 2005.
Masih berstatus Mahasiswa UGM, dan sedang sibuk mengurusi tugas akhirnya. Pengaturan waktu yang sedemikian padet tidak menyurutkan niatnya untuk terus belajar di kampus biru itu.
Bersama teman – teman alumni ESQ, Mas Gun menjadi mentor sekaligus fasilitator Public Speaking Gemah 99. Kegiatan rutin mas Gun di hari Kamis sore setiap jam 16.00. Teman – teman yang ikut dari alumni ESQ yang masih mahasiswa.
Setiap minggunya, teman – teman alumni bisa belajar, berlatih bagaimana bisa berbicara dengan baik. Dasar – dasar komunikasi sering mas Gun sampaikan ke teman – teman.
“Intinya Powerful Communication itu ada 3, yaitu kata intonasi dan motion”, jelasnya.
Di Jogja dia tinggal di Jalan Kaliurang kilometer 7,3. Kendaraan pribadinya Honda Supra yang dibawanya dari Padang. Sering menemani perjalanan mengasyikkannya.
“Sering bolak balik Jogja – Bantul. Ada keluarga almarhum bapak di sana.” Tambahnya.
“Sejak tahun 2004 saya mulai kenal Fotografi”, ujar Mas Gun, sapaan akrab teman – temannya.
Inspirasi muncul menjadi seorang fotografer karena dia mendaftar menjadi asisten dosen di kampusnya. Pada awalnya hanya ingin memenuhi materi perkuliahan dan syarat kelulusannya. Lama kelamaan menjadi kebiasaan dan karakter hingga sekarang.
“Enak itu motret moment”, sergahnya dengan antusias.
Senjata utama yang sering menemani Mas Gun adalah Nikon D70. Dengan sangu lensa 18 – 55 mm (f/3.5-5.6), 50 mm (f/1.8), 18 - 135 mm (f/3.5-5.6), 70 – 300 mm (DG f4-5.6) untuk mengambil moment – moment penting.
“Event wisuda, event nikahan, sampai training ESQ”, canda pemuda yang sibuk juga di salah satu lembaga swasta LC ESQ itu.
Sering iseng juga kalo lagi gak ada kerjaan. Mas Gun ngambil moment – moment ulang tahun teman. “Kadang sering juga bikin kejutan buat temen - temen”, sunggingan senyumnya ikut mengiasi.
Studi foto di kampus sering dipakai jika ada moment – moment spesial. Karena kunci studio kampus masih sering dibawa.
Mas Gun sering membuka kelas – kelas fotografi dasar. Untuk teman – teman yang mau belajar. Mas Gun sangat terbuka jika ada teman yang minta dijelaskan mengenai kamera DSLR.
“Jika berbagi, bisa berbagi ilmu”, candanya dengan wajah serius.
Usaha menjadi fotografer yang ditekuni juga mengalami suka duka. Sukanya banyak disukai teman – temannya yang kadang minta tolong untuk diambil gambarnya ketika ada acara. Dukanya kadang tidak ada orderan sama sekali.
“Nasi kemaren juga pernah saya makan buat ngganjel perut”, tuturnya.
Sejak 2 tahun belakangan ini, cita – citanya ingin mengabdi di fotografi akan terus berlanjut. Kesempatan menangkap moment – moment penting menjadi semakin terbuka dengan kesempatannya menjadi staff LK ESQ pada 13 Januari 2011.
“Sukanya jadi banyak teman, berkesan, laris manis, kenal banyak orang. Jadi terbuka cakrawalanya. Bisa dekat dengan alam.” Jelasnya panjang lebar
“Gambar itu bisa berbicara melaui moment – moment yang berharga. Akan selalu ada moment penting yang terjadi setiap detiknya. Jadi hargai setiap waktu.” Mas Gun menjelaskan kemudian.
Mas Gun bisa dihubungi di goen_tio@yahoo.co.id. Kadang tempat nongkrongnya di AngkringQ dan Peacock cafe. Karena sering hang out bersama teman – teman alumni ESQ sekaligus keluarga kecilnya.
October 23, 2010
7 KALIMAT MULIA
Barang siapa hafal (dan MENGAMALKAN) tujuh kalimat, ia terpandang mulia di sisi ALLAH SWT dan Malaikat serta diampuni dosa-dosanya walau sebanyak busa laut.
1. Mengucap Bismillah pada tiap-tiap hendak melakukan sesuatu.
2. Mengucap Alhamdulillah pada tiap-tiap selesai melakukan sesuatu.
3. Mengucap Astagfirullah jika lidah terselip perkataan yang tidak patut
4. Mengucap Insya Allah jika merencanakan berbuat sesuatu di hari esok.
5. Mengucap La haula wala quwwata illa billah jika menghadapi sesuatu tak disukai dan tak diingini.
6. Mengucap Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun jika menghadapi dan menerima musibah.
7. Mengucap La ilaha illa Allah Muhammad Rasulullah sepanjang siang malam sehingga tak terpisah dari lidahnya.
Diambil dari tafsir hanafi, mudah-mudahan ingat, walau lambat-lambat mudah-mudahan selalu, walau sambil lalu mudah-mudahan jadi bisa, karena sudah biasa.
September 21, 2010
KARENA SETIAP ORANG MENYIMPAN SETITIK KEBAIKAN DALAM JIWANYA
Yah, karena –sadar atau tidak- sebenarnya kita telah menjadi pilihan-pilihan Allah di bumi. Di saat banyak saudara-saudari muslim kita yang sadar untuk memperjuangkan Islam dengan manhaj apa saja, kita disadarkan oleh Allah bahwa “Generasi akhir ummat ini tidak akan menjadi generasi yang shaleh dan jaya kecuali dengan jalan yang ditempuh oleh generasi awalnya” (La yashluhu akhiru hadzihil ummah illa bima shaluha bihi awwaluha).
Dampaknya, kita merasakan keizzahan yang luar biasa dahsyatnya dalam diri kita. Kita bangga berpenampilan sebagai salah seorang ikhwan. Kita merasa mulia saat mewujud sebagai salah satu bagian dari komunitas akhawat. Salahkah? Sampai di sini mungkin tidak ada masalah. Hanya saja seringkali keizzahan itu melanggar batas-batas yang semestinya. Keizzahan itu seringkali menyeret kita menjadi merasa shaleh sendiri dan memandang rendah orang lain yang berada di luar komunitas keshalehan kita. Mungkin tidak terungkapkan dengan kata-kata, tapi ia bersembunyi dalam gerakan-gerakan hati kita. Bahkan lebih parah lagi, obsesi keshalehan kita yang begitu tinggi membuat kita memandang orang lain “yang belum shaleh” sebagai makhluk-makhluk yang sudah tidak punya harapan lagi. Kita sering menjadi “buta” tiba-tiba hingga tidak lagi melihat ada celah buat mereka untuk kembali. Kita lupa, bahwa setiap orang sesungguhnya punya setitik kebaikan itu dalam dirinya…
* * *
Izinkanlah saya untuk mengutip kisah yang sungguh-sungguh menggugah saya tentang hal ini. Sebuah kisah yang benar-benar menampar kesombongan kita yang bersembunyi di balik keshalehan lahiriah kita. Kisah ini sendiri adalah kisah nyata seorang ulama, Syekh Ahmad bin Abdurrahman Ash-Shuwayyan, yang diungkapnya dalam buku berjudul Fi al-Bina’ al-Da’wy. Kisahnya sebagai berikut…
* * *
Hari itu saya kembali dari sebuah perjalanan yang panjang. Dan di pesawat, Allah menakdirkan saya untuk duduk di samping sekelompok pemuda yang nampaknya senang sekali berfoya-foya dan berhura-hura. Tawa mereka sangat keras. Dan kegaduhan mereka pun semakin lama semakin menjadi-jadi. Kabin pesawat pun dengan cepat menjadi ruangan yang dipenuhi asap rokok mereka. Dan tampaknya sudah menjadi hikmah Allah bahwa pesawat itu benar-benar penuh, hingga tidak memungkinkan bagi saya untuk mencari tempat duduk lain.
Saya berusaha keras untuk lari dari ‘kesempitan’ ini dengan tidur. Tapi, mustahil dan sangat mustahil saya bisa tidur dalam suasana seperti itu. Maka ketika kegaduhan itu semakin membuat kejengkelan saya memuncak, saya pun mengeluarkan mushaf al-Qur’an, lalu membacanya dengan suara yang rendah. Ternyata, tidak lama kemudian sebagian dari anak-anak muda itupun mulai tenang. Sementara sebagian yang lain mulai membaca surat kabar, dan adapula yang mulai tidur dengan lelap.
Namun, tiba-tiba, salah seorang dari mereka berbicara dengan suara keras –dan ia duduk tepat di samping saya!- : “Cukup!…Cukup!”
Saya menduga suara saya terlalu keras hingga mengganggunya. Saya meminta maaf padanya. Saya pun kembali melanjutkan bacaan saya dengan suara yang membisik hingga hanya saya sendirilah yang mendengarnya. Tapi saya lihat ia menutupi kepalanya dengan kedua tangannya. Duduknya gelisah. Tidak pernah diam dan terus bergerak. Hingga ia kemudian mengangkat kepalanya dan berkata dengan penuh emosi: “Tolong! Cukuplah sudah! Cukup! Saya sudah tidak bisa bersabar lagi!”
Ia kemudian berdiri dari tempat duduknya, lalu menghilang selama beberapa lama. Tidak lama kemudian ia kembali lagi, mengucapkan salam kepada saya sembari meminta maaf. Ia terdiam. Dan saya tidak tahu apa sebenarnya yang telah terjadi. Tapi sejenak kemudian ia menoleh pada saya, dan matanya basah oleh air mata. Ia berkata sambil berbisik: “Tiga tahun lamanya, bahkan lebih…Aku tak pernah meletakkan keningku di tanah…Aku tak pernah membaca satu ayat pun! Dan…satu bulan penuh ini aku habiskan dalam perjalanan ini…tidak satupun kemaksiatan yang tidak kukerjakan. Hingga aku pun melihatmu membaca al-Qur’an…Tiba-tiba saja dunia menjadi gelap di hadapanku…dadaku sesak…Aku merasa seperti tercekik. Iya, aku merasakan setiap ayat yang engkau baca menhantam tubuhku bagai cambuk..! Aku berkata pada diriku sendiri: Sampai kapan kelalaian ini?! Kemana aku akan berjalan di jalan ini?! Lalu apa setelah semua kelalaian dan kesenangan ini?! Hingga aku pun segera lari ke kamar kecil. Anda tahu kenapa?! Karena aku merasa sangat ingin menangis. Dan aku tidak menemukan tempat sembunyi dari pandangan orang lain selain di tempat itu!!”
Demikian ia berbicara padaku…Aku pun menyampaikan kalimat-kalimat seputar taubat dan kembali pada Allah…Dan ia pun terdiam.
Ketika pesawat mendarat di bumi, pemuda itu menghentikanku. Nampak sekali ia ingin menjauh dari teman-temannya. Ia bertanya padaku, dan wajahnya menampakkan air muka yang sangat serius: “Menurut Anda, apakah Allah masih berkenan menerima taubatku?”
Aku berkata padanya: “Jika engkau jujur dan sungguh-sungguh ingin kembali pada Allah, maka Allah akan mengampuni dosa apapun.”
“Tapi aku telah melakukan terlalu banyak dosa…dosa-dosa yang begitu besar…,” ujarnya.
“Apakah engkau pernah mendengar firman Allah: “Katakanlah: Wahai hamba-hambaKu yang telah melampaui batas atas diri mereka, janganlah kalian putus asa akan rahmat Allah, sesungguhnya Allah akan mengampuni semua dosa. Sesungguhnya Dia Mahapengampun lagi Mahapengasih.” (Az-Zumar:53)??” ujarku.
Kulihat wajahnya tersenyum penuh kebahagiaan. Kedua matanya berkaca dipenuhi air mata. Ia lalu mengucapkan selamat tinggal, dan pergi berlalu…
Maha suci Allah yang Mahaagung!
Begitulah manusia. Sejauh dan setinggi apapun kedurhakaan yang telah ia lalui dan daki, tapi selalu saja ada celah kebaikan dalam jiwanya. Andai saja kita dapat berusaha sampai ke sana, lalu menyianginya dengan cinta, ia akan tumbuh dengan izin Allah.
* * *
Membaca kisah ini, membuat kita harus melihat ulang rasa izzah akan keikhwanan dan keakhawatan kita. Karena saat izzah itu menjelma menjadi kesombongan, ia tidak lagi perlu dibanggakan. Kebanggaan semacam itu hanya membuat kita meremehkan manusia lain, yang boleh jadi saat hidayah Allah bersemayam di hatinya, ia akan menjejakkan kakinya di surga terlebih dulu dibanding kita. “Izzah” seperti itu hanya akan menyebabkan kita menjadi penghalang manusia untuk meraih hidayah Allah.Wallahul musta’an.
(diambil dari Lembaga Muslimah dengan sedikit perubahan)
Oleh : Ust. Muhammad Ihsan Zainuddin
Subscribe to:
Posts (Atom)



